Ambon – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Pattimura bekerja sama dengan Universiti Malaya menyelenggarakan Kuliah Tamu bertema “Impact of Climate Change on Genetic Diversity and the Bioprospecting Potential of Aquatic Resources in Small Islands” pada Kamis, 22 Oktober 2026, secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh 71 peserta. Selain dosen dan mahasiswa FPIK Universitas Pattimura, peserta juga datang dari Stasiun Geofisika BMKG, Politeknik Perikanan Negeri Tual, Universitas Hein Namotemo, dan BPPP Ambon. Kuliah tamu ini didukung oleh program Diktisaintek Berdampak, Go Green with REST (Climate Resistance Seaweed Strain), dan Alga Indonesia. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan FPIK Universitas Pattimura, Prof. Dr. Yoisye Lopulalan, S.Pi., M.Si. Dalam sambutannya, Dekan menyambut baik terselenggaranya kuliah tamu ini sebagai wujud kolaborasi akademik antara FPIK Universitas Pattimura dan Universiti Malaya. Beliau berharap kegiatan ini dapat terus dikembangkan ke arah kerja sama riset serta program visiting scientist antara kedua institusi.
Narasumber pertama, Prof. Dr. Lim Phaik-Eem, adalah Profesor sekaligus Executive Director di Institute of Ocean and Earth Sciences (IOES), Universiti Malaya, serta Fellow Academy of Sciences Malaysia. Beliau telah menulis lebih dari 200 publikasi di bidang biodiversitas laut, filogenetika molekuler, bioteknologi kelautan, dan dampak perubahan iklim terhadap alga. Dalam materinya berjudul “Malaysia’s Seaweed Industry: Growth, Challenges, and the Science Safeguarding Its Future”, Prof. Lim menjelaskan bahwa Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Filipina, dan Malaysia, menghasilkan lebih dari 98% produksi rumput laut eucheumatoid dunia. Industri ini kini menghadapi tekanan serius karena bibit Kappaphycus dan Eucheuma telah diperbanyak secara vegetatif selama sekitar 50 tahun. Akibatnya, keragaman genetik bibit menyempit dan budidaya menjadi rentan terhadap hama, penyakit ice-ice, dan suhu ekstrem. Ia juga mengungkap bahwa Kappaphycus alvarezii kini telah punah secara lokal di lokasi tempat spesies ini pertama kali dideskripsikan di Sabah.
Prof. Lim kemudian memaparkan hasil penelitian timnya terhadap 195 spesimen rumput laut liar di perairan Semporna, Sabah. Penelitian tersebut menemukan sejumlah haplotipe baru yang menjadi cadangan genetik penting. Uji budidaya selama El Niño 2023–2024 menunjukkan Eucheuma denticulatum asal populasi liar memiliki tingkat kelangsungan hidup hampir 80%. Lebih dari 700 kg bibit tangguh iklim tersebut telah dibagikan kepada perusahaan dan pembudidaya. Pada Juni 2026, timnya juga memulai proyek restorasi rumput laut eucheumatoid tropis pertama di dunia di Pulau Selakan, Sabah.
Narasumber kedua, Dr. Poong Sze Swan, merupakan Senior Lecturer dan Kepala Unit Bioteknologi Kelautan IOES, Universiti Malaya, serta anggota komite eksekutif International Society for Applied Phycology (ISAP). Melalui materi “Currents of Change: Securing the Genetic Heritage and Blue Economy of Small Islands”, Dr. Poong mengangkat konteks Teluk Ambon secara khusus. Ia menyoroti ancaman gelombang panas laut, pemutihan karang, hipoksia di Teluk Ambon Dalam, dan pengasaman laut. Menurutnya, keragaman genetik merupakan “asuransi iklim” bagi populasi biota laut. Pendekatan molekuler seperti DNA barcoding, eDNA, dan metabarcoding mampu mengungkap spesies kriptik yang luput dari survei konvensional.
Dr. Poong juga menekankan potensi bioprospeksi sebagai jalan menuju ekonomi biru bernilai tinggi melalui pendekatan yang tidak merusak, yaitu “sample once, sequence deeply”. Ia mengusulkan pembentukan Ambon Marine Biobank dan penerapan Protokol Nagoya untuk melindungi hak serta pengetahuan tradisional masyarakat. Gagasan lainnya adalah “Sasi Laut 2.0”, yang memadukan kearifan sasi dengan pemantauan eDNA oleh pemuda desa. Ia turut mendorong sinergi antara Unpatti, BRIN Ambon, dan KKP, termasuk integrasi dengan perencanaan zonasi pesisir (RZWP-3-K).
Kuliah tamu ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan kolaborasi antara FPIK Universitas Pattimura dan Universiti Malaya. Kolaborasi tersebut diarahkan khususnya pada riset genetika, bioteknologi kelautan, dan pengelolaan sumber daya perairan pulau-pulau kecil di Maluku, sejalan dengan harapan Dekan untuk mewujudkan kerja sama riset dan pertukaran ilmuwan.
